IMPERIUM KORPORATOKRASI PEMILU

Posted: 8 Februari 2009 in demokrasi, pemilu
Tag:, ,

oleh Patawari, S.HI., M.H.

Politik dan finansial ibarat sisi mata uang yang sulit dipisahkan, siapapun yang akan memenangkan suatu pertarungan dalam politik maka kekuatan finansial menjadi prioritas utama.
Sistem pemilihan secara langsung, terjadi pembengkakan finansial yang dibutuhkan figur dalam proses sosialisasi karena programnya harus bersentuhan langsung dengan masyarakat sebagai pemilik kedaulatan baca selanjutnya>>>.

Situasi dan kondisi masyarakat yang masih terbelakang secara ekonomi sehingga masyarakat terkadang pragmatis dalam mengikuti proses politik, pada sisi lain masyarkat jenuh dengan janji-janji politik sehingga pada momen politik menganggap bahwa figur yang terbaik adalah apa yang telah diberikan secara nyata.
Pendidikan politik oleh parpol belum sampai kepada masyarakat sehingga menjadi kendala dalam menentukan figur yang tepat dalam mewakili aspirasi mereka. Cara yang instan dalam meraup suara konstituen adalah melakukan sosialisai yang tidak sedikit dana dibutuhkan.
Politik pada dasaranya bukan tujuan akhir namun politik adalah sebagai proses guna mencapai suatu tujuan yang muaranya untuk kemaslahatan masyarakat umum. Namun anggapan lain terkadang dijadikan sebagai cita akhir guna mensejahterakan diri dan kelompoknya dengan demikian secara otomatis kepentingan-kepentingan masyarakat justru terabaikan.
Nafsu akan kekuasaan sehingga menggunakan cara apapun guna mencapai cita politiknya, sekalipun secara potensi dan finansial belum cukup untuk berkompetisi.
Politik Koorporaktokrasi
Istilah korporaktokrasi diungkapkan John Perkins (2004) bahwa “membangun imperium global, maka berbagai korporasi besar, bank, dan pemerintahan bergabung menyatukan kekuatan finansial dan politiknya untuk memaksa masyarakat dunia mengikuti kehendak mereka”. Bahwasanya dalam meraih cita politik maka menggunanakan deal dengan pihak korporat (pemilik modal) untuk membiayai kepentingannya, tentu dengan kompensasi yang lebih meguntungkan pihak korporat.
Sebagai cara guna menutupi kekurangan adalah menggunankan imperium korporaktokrasi. Imperium korporaktokrasi sebagai lembaga yang berada “dibelakang layar” yang menyediakan dana (finansial), baik pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah tingkat kabupaten/kota, gubernur dan wakil Gubernur, sampai pada tingkat pemilihan dan wakil Presiden. Demikian juga dapat terjadi pada momen pemilihan calon legsislatif (caleg).
Kesepakatan dalam membiayai kepentingan politik tidak secara Cuma-Cuma (gratis) tetapi dengan konsensus ketika terpilih akan mengembalikan dengan cara linear dengan jasa pilitik, dengan kepentingan proyek ketika terpilih, atau dengan mengembalikannya dengan nilai nominalnya melebihi dari pada dana yang dihabiskan.
Donatur bayangan
Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum dalam politik pragmatis namun tidak nampak dalam karena tentunya akan melanggar secara etika hukum dan demokratisasi. Kekuatan korporaktokrasi sebagai infestor politik tidak tinggal diam dengan mencoba menjawab atas kondisi masyarakat yang semakin terhimpit oleh kebutuhan ekonomi.
Sikap imperium korporaktokrasi harus diantisipasi dalam momen pilitik, sebab berakibat fatal dalam proses perjalanan pemerintahan. Dimana pemerintahan bergerak dan berjalan atas keinginan pemilik modal bukan atas keinginan murni masyarakat.
Kebijakan pemerintah yang begitu mudah diinterfensi oleh baik pada kebijakan regulasi, monopoli industri, terutama pada kebijakan ekonomi yang berpihak pada pemilik modal, dan tentunya dengan cara tersebut akan berakibat pada pemiskinan masyarakat secara tidak langsung dan munculnya korupsi secara struktural akibat ketidak taatan pada aturan perundang-undnagan yang berlaku.
Implikasi Koorporaktokrasi
Dengan adanya kekuatan korporaktokrasi maka kebijakan pemerintah akan didikte oleh korporat. Pada skala besar kita dapat berceremin pada kondisi bangsa Indonesia yang berjalan dengan adanya kekuatan korporaktoktat yang dimaksud seperti IMF, WB dan donatur lain yang senantiasa mendikte pemerintah. Implikasinya sampai saat ini bangsa indonesia sudah cukup tua 62 tahun dari kemerdekaannya justru masyarakat semakin terhimpit secara ekonomi.
Yang harus diantisipasi, adalah korporat- korporat kecil sesuai dengan skalanya dalam hal ini pada momen pemilihan kepala dan wakil kepala daerah tingkat I dan II demikian juga pada pencalonan anggota legislatif dengan deal masing-masing yang berbeda, dapat berupa kepentingan capres/cawapres 2009, dan kepentingan proyek ketika terpilih, serta bangunan konsensus yang menuntut harus direalisasikan ketika terpilih.
Akibat lain dari pada kekuatan korporaktokrak pertama kekuatan untuk melakukan politik dan kekuatan kekuatan finansial ia miliki sehingga begitu mudah dalam mendikte pemerintah baik legislatif eksekutif dan judikatif terutama dalam membuatan undang-undang. Kedua, ketika kejahatan korporasi dibawa kemeja hijau cenderung menang karena mempunyai kekuatan politik dan finansial yang dapat menginterfensi proses hukum.
Moral Politik
Dalam era demokrasi sekarang ini yang begitu terbuka, imperium korporat harus diantisipasi, dengan adanya kekuatan moral pemerintah untuk tidak melakukan kerjasama dengan pihak pemilik modal yang justru semakin meresahkan masyarakat dan menguntungkan pihak tertentu.
Para politisi menjelang pemilu raya 2009 dan pemilihan kepala daerah ditingkat kabupaten kota, harusnya berjalan sesuai potensi yang dimiliki sehingga tercipta pemerintahan yang mandiri, kuat tanpa interfensi dari pihak luar yang mengeruk keuntungan dengan kekuatan finansial yang ia miliki. Demikia cita dari pada era otonomi daerah yang diharapkan pemerintah melaksanakan pemerintahannya secara mandiri sesuai potensi yang dimiliki daerah masing-masing.
Hal tersebut tidak diharapkan tercipta pada skala Kabupaten/Kota atau Propinsi karena diharapkan lahir cikal bakal pemimpin atau politisi yang mental yang dapat diorbitkan dan berkompetisi pada tingkat nasional bahkan pada tingkat internasional. ###

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s