OSPEK & DEHUMANISASI

Posted: 16 Februari 2009 in organisasi, sosiologi
Tag:, , , , ,

Oleh: PATAWARI

Istilah “ospek” tidak begitu asing lagi di dunia kampus, ospek sebagai salah satu istilah wadah dalam memberikan pencerahan dan perngenalan mahasiswa baru dalam memasuki babak baru jenjang pendidikan perguruan tinggi. perkenalan dalam dunia sekolah dikenal Opsek (orienasi pengenalan sekolah). Nama tersebut sesunguhnya berbeda-beda dari tahun ketahun dan berdasarkan fakultas/jurusan masing-masing perguruan tinggi.
Filosofi Ospek /Opsek adalah memberikan pengenalan civitas akademika baika kepada senior, dosen, pegawai, birokrasi kapus (Rektor sampai Dekan-Dekan, dan ketua jurusan) demikian pada sekolah perkenalan dari kepala sekolah gugu-guru, sampai pegawai, dan para senior. Namun dalm proses ospek tak jarang yang mengikuti sesuai dengan landasan filosofi tersebut, apalagi dilaksanakan oleh para senior kampus beangsur mulai ada gerakan tambahan, seperti perpelocohan, pengemblengan pikiran sampai fisik demikian pada keterampilan.
Penggemblengan secara fisik terkadang menjadi sorotan dikalangan masyarakat. Hal tersebut dilandasi dengan adanya beberapa mahasiswa yang mengalami cedera yang berimbas pada cacat seumur hidup bahkan dalam sejarahnya ospek pada perguruan tinggi tertentu ada yang menelan korban jiwa. Ini yang menjadi boomerang bagi perguruan tinggi yang dapat menurunkan citra kampus sebagai tempat belajar dan menggali ilmu.
Ospek yang dilakoni oleh senior-senior mahasiswa terkadang over, dan tertutup oleh publik demikian juga birokrasi yang tidak melakukan controlling terhadap pelaksanaan ospek. Sehingga kalangan senior melakukan metodologi dianggapnya benar walapun bagi mahasiswa baru itu cara yang menyakitkan.
Ospek juga bagi penulis tidak perlu dihilangkan sebab banyak gambaran dan pengalaman yang dapat dijadikan sebagai pelajaran sehingga mahasiswa dapat merasakan dunia kampus yang beda dengan dunia pendidikan sebelumnya, harapannya, ospek kembali kepada filosofinya sebagai wadah pengenalan civitas akademika.
Sesungguhnya, yang menjadi problem dalam ospek adalah, keegoan para senior sehingga mahasiswa baru menjadi korban. Selain dari itu juga adaah “nafsu” aktualisasi diri para senior yang ingin dikenal oleh mahasiswa lainnya sehingga melakukan cara –cara bengis, yang sesungguhnya tidak mencerminkan nilai –nilai moralitas, etika dan rasional sebagai mahasiswa.
Sisi lain dari itu adalah kepentingan senior, baik itu kepentingan internal apakah akan menjadi ketua BEM/Senat atau kepentingan secara eksternal dengan melakukan perekrutan massa yang basisnya adalah mahasiswa baru yang kakuh dan tidak tahu menahu.
Resiko kepentingan mahasiswa tersebut sangat berpengaruh terhadap cikal bakal lahirnya konflik baik secara horizontal maupun secara vertical dengan birokrasi kampus.
Mahasiwa harusnya becermin dengan dunia kampus di Negara-negara maju seperti di amerika Australia dan ingeis, tidak ada yang memberikan pembelajaran negative dan penggemlengan secara fisik terhadap mahasiswa baru. Mereka sadar akan pentingnya pendidikan bukan segai tempat perpeloncohan tetapi wadah pembelajaran pedidikan dan pengabdian bagi masyarakat.
Sebab, memang cara penggemlengan secara fisik merupakan cara pendidikan yang kolot seperti yang telah dilakukan oleh pelajar dan mahasiwa angkatan-angkatan 50-an. Demikian juga dilakukan pada masa-masa penjajahan sampai kemerdekaan indonesia.
Dalam orientasi pengenalan kampus adalah penyelenggaraan memilih, apakah dengan cara ospek gaya militer atau nuansa intelektual.

Gaya militer
Memberikan pengenalan kepada mahasiswa dengan cara militer rasa-rasanya kita teringat akhir-akhir ini dimedia mengangkat kasus STPDN/IPDN yang sangat militerialistik bahkan melebihinya. Cara militerpun sesungguhnya tidak separah IPDN, sebab ada batas-batas kemanusiaan yang memang dilaksanakan secara profesional. Lain halnya dengan IPDN yang hanya dilakukan secara serampangan tampa melihat resiko yang akan terjadi.
Dua metodologi tersebut apakah gaya militer dan cara seperti di IPDN, pada kampus perguruan tinggi yang mengajarkan multi disiplin ilmu harapannya tidak cara tersebut sebab kondisi sosialnya beda. Metodologi penggemblengan secara fisik seperti pus-Up, kengkreng, berguling di tanah toh dilakukan adalah harus sewajarnya. Artinya bahwa para senior tentu mempunyai rasa dan moral apakah dengan melakukan enggebengan fisik yang tidak manusiawi baik atau buruk. Sebab ketika emosi dan nafsu melakukan penggemblengan senanatiasa menggerogoti pikiran organizing comiitte maka itulah yang dapat merusak citra mahasiswa dan perguruan tinggi bersangkutan.
Menjadi harapan bahwa pengenalan kampus tetap berjalan akan tetapi tidak sampai pada perusakan moral, pemaksaan fisik, sebab mereka dipersiapkan menjadi generasi pemikir bukan genersi yang dipersiapkan terjung ke medan perang seperti tentara. Kalaupun ada yang memeliki cikal bakal menjadi pembela Negara, senantiasa senang dengan penggemblengan secara fisik maka ada wadah seperti Resimen Mahasiswa (Menwa).

Nuansa intelektual
Metodologi Ospek seharusnya menjadi wadah yang bernuansa intelektual, sebab pada proses pekuliahan pada semester-semester berjalan mahasiswa senantiasa bergelut buku, diskusi, dan berorganisasi. Maka sebagai basic awal adalah mahasiswa baru diberikan bekal pengenalan baik intra maupun ekstra kampus.
Mahasiswa baru harus diberikan pelayanan sebagai calon intelektual yang baru memasuki dunia kampus, diberikan pelayanan dengan wajar, juga tidak justru membuat lebih cengeng, manja yang nantiya apatis terhadap dunia kampus dan dunia sosial. Pada prinsipnya bahwa muatan ospek selain pengenalan civitas akademika maka juga diberikan bekal tentang Tridarma perguruan tingi yakni; pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Mahasiswa hasus diberikan dorongan motivasi belajar dan memahami fnomena sosial. Sebab mahasiswa akan menjadi garda depan perubahan denga memahami perannya sebagai sosial change dan sosial control dengan modal moral vorce. Bahwa bentuk pengabdian mahasiswa adalah melakukan ontroling terhadap fenomena masyarakat dan kebijakan yang dilahirkan pemerintah yang bernilai positif terhadap masyarakat. Mahasiswa melakukan menyikapi dengan melaukan perubahan sesuai dengan peran, fungsi sebagai masyarakat intelektual. Perubahan tersebut biasanya dilakukan melalui tiga cara yakni; dialogis, tulisan, dan demonstrasi/aksi.
Melakukan peran sebagai sosial control dan sosial of change dengan kekuatan moral. Bahwasanya, ada kekuatan emosional antara mahasiswa dengan masyarakat, di mana mahasiswa terlahir karena adanya turut serta masyarakat dalam memberikan sumbangsi terhadap pendidikan yang dikelolah oleh pemerintah.
Demikian juga pengenalan pada dunia luar tentang efek industrialisasi, globalisasi/kapitalisme. Humanisme, ham, dan wacana-wacana yang senantiasa hadir dipermukaan masyarakat.
Pada pelaksanaan orientasi pengenalan kampus, diperlukan adanya partipasi seluruh civitas akademik dalam memberikan pelayana terhadap mahasiswa baru. Dengan memperkenalkan situasi dan kondisi dalam maupun luar kampus, sehingga mahasiswa tidak kelbakan dalam memahami wadah yang ditempati dalam poroses pencaian jati diri. Demikian juga mahasiswa lama (senior) menggap bawhwa mahasiswa baru sebagai mitra belajar, mahasiswa baru dengan yang lama tidak ada inferior superior semuanya sama dalam Kampus, mahasiswa lama harus menjadi tauladan dan menjadi inspirator mahasiwa yang baru memasuki dunia kampus.
Pengenalan yang harus diberikan pengenalan yang konstruktif, Cara-cara penggemblengan fisik harus dihindari dan ditiadakan, guna menghilangkan berstigma buruk masyarakat terhadap kampus bersangkutan. Citra mahaiswa dan kampus tetap terjaga sebagai basis intelektual.
Menghindari penggunaan yel-yel dalam ospek yang dapat menabur benih –benih perselisihan sesama mahasiwa demikian dengan birokrasi kampus. ###
Ketua Umum BEM IAIN/UIN Alauddin Tahun 2002 Fakultas Syari’ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s