MAHASISWA SEBAGAI LOKOMOTIF GERAKAN

Posted: 22 Februari 2009 in mahasiswa
Tag:, , , ,

PATAWARI
Mahasiswa Aktifis 9920022008090

Dalam Sejarah Orde Baru lahir sebagai sumbangan protes mahasiswa pada tahun 1966 namun berakhir tumbang oleh kadernya sendiri (mahasiswa) pada tahun 1998. kekuatan gerakan mahasiswa Soeharto sebagai presiden yang fobiyah terhadap gerakan (aksi) mahasiswa. Ketakutan soeharto menghadapi gerakan mahasiswa ketika gerakan memprotes pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, sehingga Soeharto memerintahkan kepada Pangkopkamtib jenderal Soemitro untuk mengambil langkah keras untuk menghentikan gerakan deminstrasi mahasiswa. Namun Istri soeharto tidak tinggal diam melihat suaminya yang dirundung demonstrasi sehingga Ibu Tien Soeharto sebagai penggagas proyek TMII mengadakan pertemuan dengan beberapa pengusaha, pemuda, dan mahasiswa di gedung Kartika Chandra, dijalan Gatot Subroto. Mahasiswa yang hadir pada pertemuan tersebut yaitu Surdjadi dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Akbar Tanjung dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ibu Tien yang memanfaatkan pertemuan tersebut dan mengeluarkan statemen bahwa pembangunan Taman Miniature Indonesia adalah tidak ada yang ditutup-tutupi.
Pernyataan politik Soeharto bahwa “kalau pada saat ini ada yang melanggar konstitusi tentang pembagun TMII maka saya akan kembali kepada sikap saya ketika menghadapi PKI pada bulan Oktober 1965 dengan menggunakan Supersemar….”’ Pernyataam politik itu membuat aksi-aksi demonstarsi ke jalan yang dipimpin oleh Arif Budiman dengan mengeluarkan pernyataan sikap dengan nama “Januari yang kelabu” yang salah satu pernyataannya sikapnya adalah “…kami tetap menentangnya. Tetapi bila diancam dengan kekuatan fisik, bila semua ABRI kompak seperti apa yang dikatakan Pak Harto kemarin, maka kami pagi-pagi ingin mengatakan : kami menyerah kalah. Kami tidak akan berdaya apa-apa bila konfrontasi fisik yang diancamkan kepada kami. Apa arti kami berhadapan dengan seluruh ABRI yang kompak dan bersenjata lengkap.”
Sesuai dengan hasil pertemuan mahasiswa se-Indonesia di Bandung oktober 1977 memutuskan untuk mendesak Suoeharto untuk tidak mencalonkan diri sebagai president. Lebih jauh kebencian mahasiswa terhadap kepemimpinan nasional juga tercermin pada pertemuan aktivis mahasiswa dalam jaringan kota di Yogyakarta, Solo, Jombang, Malang, Surabaya, dan Semarang pada tahun 1996.
Gerakan protes mahasiswa tahun 1977-1978 bisa disebut sebagai gerakan protes mahasiswa Indonesia yang paling lengkap mengkritik atas berbagai penyimpangan selama pemerintahan Orde Baru. Gerakan mahasiswa yang dipelopori oleh organisasi intra kampus yang illegal, Dewan Mahasiswa yang mampu merumuskan berbagai penyimpangan pemerintahan Orde Baru dengan sistematis dan lengkap.
Kekecewaan mahasiswa semakin lama semakin memuncak apalagi setelah ASPRI Presiden Ali Muertopo menanggapi keresahan mahasiswa dan mengeluarkan 3 golongan gerekan dikalangan mahasiswa. Pertama, mahasiswa murni ingin memperbaiki Bangsa dan Negara namun menggunakana cara-cara yang tidak wajar. Kedua, gerakan mahasiswa abadi atau “MA” yang sudah ditunggangi oleh orang diluar mahasiswa dengan tujuan mendapatkan status social atau uang dengan gerakannya itu. Tiga, gerakan yang mengaku mahasiswa tetapi sebenarnya mempunyai tujuan politik menggantikan Kepemimpinan Nasional.
Hasil pemilu tahun 1977 membuatkan kekecewaan bagi partai-partai dimana golkar memperoleh 232 kursi, PPP 99 kursi, PDI 29 kursi. Kekecewaan itu juga muncul dikalangan mahasiswa untuk itu, Dewan Mahasiswa (DM) dan senat mahasiswa (SM) sejakarta mengeluarkan kecaman yang keras atas hasil pemilu itu dengan keluarnya pernyataan “serat terbuka untuk bangsa” dalam pernyataan yang ditandatangani oleh 16 DM/SM sejakarta tanggal 12 Mei 1977 disampaikan 7 butir kritikan terhadap pemilu : “tidak dilakasanakannya pemilu secara jujur menurut ketentuan hukum mengundang terjadimya perubahan secara inkonstitusional yang akan mencelakakan bangsa. Adanya anggapan bahwa ABRI hanya memiliki oleh satu kontestan akan membahayakan kehidupan bangsa yang sehat. ABRI sebagai kekuatan nasional harus tetap berdiri di atas semua golongan tanpa memihak, karna hanya ABRI yang demikianlah yang bisa menjadi tumpuan rakyat. Pemilu adalah satu alasan yang masih memberi harapan bagi rakyat, karena pemilu yang jujur bukan hanya akan melenyapkan harapan itu, tetapi akan juga menjadi Preseden buruk bagi kehidupan demokrasi di Indonesia.
Aspirasi kekecewaan mahasiswa merupakan cerminan aspirasi masyarakat karena lembaga DM lebih dipercayai ketimbang DPR, hal ini dibuktikan pengaduan pernyataan langsung maupun tidak langsung kepada DM.
Lahirnya NKK/BKK oleh gagasan Daoed Joesoef yang dituangkan dalam SK mendikbud No. 0156/U/1978 tentang normalisasi kehidupan kampus dan isinya menugaskan kepada para perguruan tinggi untuk melaksanakan NKK dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan petunjuk yang telah digariskan dalam raker rector seindonesia. NKK dituangkan dalam keputusan Dirjen Dikti Dekdibkud yang dijabat oleh Prof. Dr. DA. Tisna AmidJaja tentang pokok pelakasanaan penataan kembali lembaga-lembaga kemahasiswaan di PT. instruksi dikti kemudian melahirkan menggantikan DM yang telah dibukukan oleh PangkopKantip sejak 21 Januari 1978 dengan senat mahasiswa fakultas dan BPM. Dalam organisasi ini terdapat campur tangan fakultas dan institute atau unifersitas dengan adanya badan koordinasi kemahasiswaan (BKK) yang diketuai oleh pimpinan kampus lewat PR III bidang kemahasiswaan. Strukitur BKK melemahkan gerakan mahasiswa karna BKK menjadi penyeleksi dan perizinan yang dapat menentukan boleh tidaknya suatu kegiatan mahasiswa. Kebijakan ini mendapatkan tantangan dari mahasiswa dianggap cara pemerintah menanggapi aksi protes mahasiswa dengan menekan para pimpinan mahasiswa, memenjarakannya dan membuat kebijakan politik dalam bidang kemahasiswaan. Permasalahan kepemimpinan nasional yang menjadi pokok sentaral protes mahasiswa pada tahun 1977 – 1978 yaitu bentuk penyelewengan kekuasaan seperti konglomerasi yang ikut merontokkan ekonomi Indonesia, korupsi, kolusi, dan nepotisme belumlah menjadi octopus (gurita raksasa) yang sulit dibasmi sendiri.
Lagi-lagi sejarah memiliki hukum besi sendiri ketika kritik mahasiswa dibungkam, oposisi dilarang, memenjarakan lawan-lawan politik menjadi kebiasaan.
Kelemahan gerakan mahasiswa : kekuasaan begitu lama dapat menyingkirkan kekuatan anak muda (lebih 20 tahun) antara periode 1977-1978 kepride tumbangnya Soeharto. Hal ini dapat terjadi karna kelemahan –kelemahan yang ada dalam garakan mahasiswa itu sendiri. Gerakan 1970 an suatu periode dimana mahasiswa begitu dekat dengan mitos gerakan moral sehingga tidak lagi memikirkan imbas politik dari tekanan yang mereka lakukan. Mereka cukup puas ketika melakukan sekedar menimbulkan keributan kecil politik yang kemudian dijadikan acuan untuk melakukan perubahan (tidak ada target politi tertentu yang dikehendaki). Hal ini jelas dalam Malari 1974, ….garakan 1977-1978 memilki tujuan yang tersimbolisasi dari kehendak untuk menggagalkan tampilnya Soeharto sebagai presiden ketiga kalinya. Hal ini mengidentikasikan pola garakan moral kepada kecedrungan garakan politik ………disinilah aparat keamanan lihai memanfaatkan internal mahasiswa.
Sumbangan gerakan mahasiswa 1977-1978 itu perlunya lembaga legislative yang kuat untuk mengontrok eksekutif ; pemisahan ketua MPR dan DPR karena keduanya lembaga yang berbeda (MPR lembaga tertinggi Negara sedangkan DPR lembaga tinggi setara dengan presiden) perlu pelaksanaan pemiliham umum yang benar-benar mencerminkan asas langsung umum bebas rahasia. Dibubarkan lembaga ekstara kontitusional seperti kopkamtip membubarkan Bakorstanas sebagai renkarnasi kopkamtip. Sisoi ekonomi berlakunya pasal 33 UUD 1945 dengan kenyataan bahwa utang dan laut telah dikuasai oleh orang tertentu yang direstui oleh kaum pejabatv; merajalela korupsi, hambatan birokrasi, komersalisasi jabatan berbagai pungutan liar. Dalam bidang social budaya terjadi penonjolan kebudayaan daerah tertentu: Javanisasi tidak ada pemerataan pendidikan, pengebirian kebebasan ilmiah dan mimbar bebas. Masalah kepempinan nasioanal dan daerah menunjukan gejala adanya upaya untuk tetap mempertahankan pucuk pimpinan nasioanal kuntuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu. Ketidak percayaan masyarakat terhadap kepemimpinan nasioanl dan daerah dengan adanya penunjukan pimpinan daerah tidak atas aspirasi rakyat daerah bersangkutan. Sumbangan pemikiran mahasiswa 1977 -1978 masih sangat relevan dengan kondisi reformasi saat ini. Akankah cita-cita mereka ketika mahasiswa ini terwujud dalam interaksi social? Adalah ditentukan pada tiap individu mahasiswa yang membingkai dalam satu kelompok dengan gerakan sehat pada patron idalisme mahasiswa sebagai lokomotif gerakan pembaharuan bangsa Negara dan masyarakat.
Kapan lagi kalau bukan sekarang
Siapa lagi kalau bukan kita
(25/102997)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s