MANAGEMEN, ORGANISASI, & KEPEMIMPINAN

Posted: 30 Mei 2009 in mahasiswa, managemen, organisasi, pemimpin, politik
Tag:, , , ,

Oleh : PATAWARI, S.Hi., M.H.

Maha kuasa Tuhan Allah SWT. Yang menciptakan manusia yang begitu sempurna dari pada makhluk lain. Manusia diciptakan dengan penuh fasilitas yang tepat dan sesuai dengan porsinya, diciptakan manusia dengan diberi fasilitas akal, jiwa, dan fisik yang kesemuanya bisa saling bersinergi dan tetap menjalankan tugas masing-masing yang telah diberikan.
Demikian juga dengan fasilitas lain yang diberikan seperti mata yang di tempatkan di atas-depan, dua telingah masing-masing kiri dan kanan, dua kaki masing-masing posisi di bawah, kepala sebagai symbol pemimpin ditempatkan pada posisi atas, dua tangan di tengah-tengah masing-masing kiri dan kanan dengan kemampuan menjangkau seluruh bagian tubuh.

Kesemuanya menjalankan amanah sesuai dengan job dan atau fingsi yang diberikan. Walaupun perbedaan job yang diberikan namun tetap saling bekerja sama, bahwasan dalam kondisi tertentu, terkadang yang satu dapat menjalankan fungsi yang lainnya, tanpa pamrih.

Kita tidak dapat membayangkan sekiranya Allah SWT. Menciptakan manusia dengan menempatkan; kepala di kaki atau sebaliknya kaki di kepala, yang lebih ironis lagi sekiranya mata di ujung telunjuk, atau lubang hidung menghadap ke atas!!! Kesemua itu, Allah SWT yang dengan kekuasaannya tidak ada yang luput darinya, semuanya dapat terjadi atas kehendaki-Nya.

Kesempurnaan yang di miliki manusia tersebut, maka pantaslah manusia diberikan gelar “raja mahluki”, Namun ketika amanah itu tidak dijalankan sebagai mestinya maka manusia akan lebih hina dari pada binatang dengan gelar “asfala saafiliin”

Dengan demikian bagaimana menjalankan oranganisasi sebagaimana gambaran yang ada pada tubuh manusia yang sempurna penciptaannya ?

Managemen organisasi sebagaimana yang kita pahami secara umum merupakan kelompok manusia yang berhimpun dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Diskursus tentang managemen organisasi ada tiga unsur yang sulit dipisahkan (three in one) keberadaannya, tanpa ketiga tersebut maka tidak akan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya, ketiga hal tersebut yaitu: organisasi, manajemen, dan kepemimpinan.
Guna memahami dari ketiga tersebut, di bawah ini dapat dilihat masing-masing gambarannya, yaitu

A. Organisasi
1. Organisasi adalah suatu kumpulan manusia atau kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Organisasi mempunyai struktur atau hierarki jabatan, baik vertikal maupun horisontal.
3. Dalam jabatan ada job description, tugas, wewenang, dan tanggung jawab tiap-tiap jabatan.
4. Dalam susunan anggota organisasi ada atasan dan bawahan (hierarki) yang dinamakan pimpinan dan anak buah (bawahan).
5. Organisasi mempunyai sumber-sumber dana, fasilitas, dan tata cara penggunaannya.
6. Organisasi bentuknya bisa formal (mempunyai legalitas) atau informal

B. Manajemen
1. Manajemen adalah mengerjakan sesuatu melalui orang lain (doing things through other people).
2. Manajemen adalah “do things right” (efisien) dan “do the right things” (efektif).
3. Manajemen adalah melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk pencapaian tujuan organisasi.
4. Manajemen memanfaatkan sumber-sumber berupa SDM, alat produksi, modal, metode, outsourcing, bahan baku, pasar, informasi, network,

C. Pemimpin
1. Pemimpin ada dalam kelompok manusia atau organisasi.
2. Pemimpin adalah pucuk pimpinan organisasi atau suborganisasi, dan mempunyai anak buah, bawahan, subordinat, atau pengikut
3. Dengan visinya, pemimpin harus dapat membawa atau mengerahkan anak buahnya secara bersama-sama dalam suatu jalinan kerja yang kompak dan terpadu untuk mencapai tujuan organisasi.
4. Pemimpin dalam organisasi mempunyai kedudukan formal-artinya ada tugas, wewenang, dan tanggung jawab formal, tetapi harus pula dapat bertindak secara informal melalui pendekatan kemanusiaan dengan para anak buahnya untuk memberikan dukungan-dukungan moril dan motivasi sehingga moral, prestasi, produktivitas anak buah selalu meningkat.
5. Dalam tingkat kualitas dan prestasi tertentu, seorang pemimpin sebagai individu dapat melekat atau selalu diasosiasikan dengan organisasi yang ia pimpin sebagai pengakuan atas prestasi pemimpin tersebut. Artinya, mendengar organisasi akan teringat pemimpinnya atau mendengar pemimpin akan teringat organisasinya.

Untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah organisasi, maka tidak hanya karena organisasi tersebut besar secara struktural, ternama, punya founding yang jelas, power yang hebat, namun juga diperlukan adanya:
1. pembagian kerja di dalam organisasi berupa struktur organisasi dan deskripsi kerja. Ada hierarkhi yang disebut atasan dan bawahan, ada pangkat dan jabatan,
2. rencana kerja baik jangka pendek maupun jangka panjang
3. taktik dan strategi dalam mencapai tujuan kelompok dan organisasi
4. dukungan lahir dan bathin dari pemimpin pada anak buahnya berupa loyalitas, demikian pula sebaliknya berupa kepatuhan agar ada kesatuan jiwa
5. pembinaan yang berkelanjutan dari pemimpin kepada pengikut.
6. persatuan dan kesatuan harus selalu dijaga dalam kelompok atau organisai, agar selalu kompak, solid, dan menjaga keharmonisan di atara anggota organisasinya.
7. semangat, moral serta motivasi yang tinggi dari seluruh anggota kelompok atau organisasi, agar tumbuh tekad kebersamaan.
8. figure pemimpin sebagai tauladan dan mengayomi bagi anak buahnya, agar timbul moral, ketenangan, dan lahir bathin pada anak buahnya.
9. pemimpin harus dapat mengatasi konflik anggota kelompok dengan bijak dan sebaik-baiknya, konflik harus menjadi konstruktif bukan destruktif.
10. pemimpin harus dapat membuat keputusan-keputusan dengan cepat dan tepat sasaran dalam segala situasi apakah situasi normal ataupun pada situasi kritis dan krisis.

Rendahnya Kepiawaian kepemimpinan nasional saat ini baik di pemerintah maupun di sektor swasta. Memang harus diakui kepemimpinan karena di era Orde Baru mulai akhir tahun 1980-an sampai sekarang banyak menggunakan pendekatan otoriter dan sangat mendidik manusia Indonesia menjadi bermental bebek yang hanya mengiyakan, berteriak, selalu minta petunjuk, dan bekerja berdasarkan asal selamat.


Setelah krisis ekonomi pada akhir 1997, mulai terkuak bagaimana sulitnya bawahan melepaskan diri dari kebiasaan tergantung kepada pimpinan. Sebaliknya, sang pemimpin juga tidak menyadari bahwa dia bukan yang selalu benar dan segala sesuatu tidak harus terus di bawah kendalinya. Kalau kita tidak melakukan suatu perubahan mendasar, kita akan semakin sulit untuk keluar dari situasi ini. Sumber: Ariwibowo Prijosaksono & Ping Hartono, 2002, :xiii-xiv.)

Tidak bisa dipungkiri bahwa di Indonesi dan demikian juga di Negara lain jutaan organisasi yang terlahir dengan semboyang masing-masing. Baik organisasi formal maupun non formal. Namun juga tidak dapat mencapai tujuan dan cita ideal sebagaiman yang diharapkan sebelum dibentuk. Tentu hal tersebut bukan hanya karena factor organisasi dan managemennnya yang kurang baik, akan tetapi juga kegagalan orang –orang yang memimpin, berikut di bawah ini beberapa sumber kegagalan dalam memimpin suatu organisasi, yaitu :


1. pemimpin selalu menempatkan diri hanya pada kedudukan formal sebagai pimpinan saja. Akibatnya, banyak mengandalkan kepada kekuasaan formal saja, tanpa memperhatikan hubungan kemanusiaan dengan anak buah. Biasanya, pemimpin seperti ini kalau sudah tidak menjabat lagi, tidak akan dihormati atau dipedulikan mantan anak buahnya. Hal inilah biasanya yang menyakitkan para mantan pemimpin seperti itu. Ingat, kepemimpinan adalah hubungan sesama manusia, bukan hubungan dengan benda mati atau robot.


2. Tidak mampu membangun team work, sehingga sulit untuk mengarahkan anak buah dalam suatu kesatuan atau sinergi untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Hal itu disebabkan karena anggota tim tidak mempunyai motivasi dan spirit yang tinggi dalam kebersamaan di dalam kelompoknya dalam proses mencapai tujuannya. Pemimpin seperti ini akan membingungkan anak buahnya


3. Hanya ingin dilayani. Padahal, pemimpin juga sebaiknya mau melayani anak buahnya. Namun, karena pengaruh sifat feodalisme yang sangat kental pada bangsa ini, banyak pemimpin yang hanya ingin dilayani, seolah-olah hanya dia yang berhak dilayani, bahkan anak buahnya juga harus memberikan upeti. Oleh sebab itu, ingatlah akan ungkapan “pemimpinmu adalah pelayanmu”. Melayani anak buah itu memang berat, tetapi inilah salah satu konsekuensi menjadi pemimpin


4. Tidak mau menanggung risiko. Akibatnya, anak buah dikorbankan dan menjadi kambing hitam jika terjadi suatu kesalahan. Perlu diingat, dalam pepatah militer “Tidak ada prajurit yang salah; yang salah adalah komandannya”. Pemimpin harus mau berkorban untuk melindungi anak buahnya, bukan hanya mencari selamat sendiri. Akibatnya pemimpin seperti ini akan dibenci anak buahnya


5. Tidak mampu memberikan motivasi kepada anak buah agar tumbuh semangat team work yang kompak dan solid untuk menjadi tim unggul. Bersifat masa bodoh pada anak buahnya-anak buah mau pintar atau bodoh terserah masing-masing tetapi ia bersikap reaktif. Tidak mau mendengar usulan-usulan atau gagasan-gagasan dari bawahan, tetapi kalau terjadi kesalahan maka anak buahnya akan disalahkan dan dimarahi habis-habisan. Kalau ada usulan atau gagasan yang baik dari anak buah akan ditolak, tetapi nanti usulan tersebut kalau ternyata baik akan dimanfaatkan, seolah-olah merupakan hasil pemikirannya sendiri.


6. Menghendaki loyalitas dari anak buah atau bawahan sebaliknya pemimpin tersebut tidak loyal pada anak buah, tidak memperhatikan kebahagiaan dan tidak memelihara semangat anak buah. Loyalitas yang benar itu harus dua arah,


7. Banyak pemimpin yang dikelilingi oleh para penjilat, pembisik, pembebek, berjiwa budak, punakawan, oportunis, yes-man, munafik yang bersikap ABS (asal bapak senang, dan koruptor, sehingga pemimpin kehilangan objektivitasnya dalam mempertimbangkan sesuatu dan dalam membuat keputusan-keputusan.


8, Tidak bisa menempatkan diri sebagai panutan dengan keteladanan dalam perbuatan. Padahal, seorang pemimpin harus berkata “Do as I do”, bukan “Do as I say”.


9. Anggapan bahwa kedudukannya seolah-olah bias ditempati seumur hidup, sudah duduk lupa berdiri, bahkan merasa kedudukannya bisa diwariskan kepada anaknya, sehingga lupa bahwa kinerja organisasi yang jelek bisa mernbuat seorang pemimpin jatuh atau diberhentikan. Semakin tinggi kedudukan atau jabatan, semakin banyak orang yang menyoroti tingkah laku pemimpinnya. Selarna menjadi pemimpin ia hanya menikmati kedudukan dengan berbagai fasilitas yang dapat dinikmatinya, dan melakukan korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Inilah pemimpin yang celaka. Begitu jatuh, pemimpin seperti ini akan disoraki anak buahnya.


10. Pemimpin yang memang tidak pintar. Garis tangan nasiblah yang membuat ia bisa menduduki jabatan tertentu meskipun sebenarnya ia tidak layak menjadi pemimpin. Bisa saja jabatan itu didapat karena kedekatan dengan atasannya, atau dengan cara-cara yang tidak elok seperti menyogok, menjilat, memfitnah, menempel, menghambakan diri pada atasan, menjelekkan orang lain, melakukan praktik perdukunan, dan lain-lain. Di Indonesia masih ada pemimpin seperti ini dan rasakanlah akibatnya, negara kita sulit maju. Atau bisa saja karena belum mantapnya demokrasi dan hukum di Indonesia dalam praktik di lapangan, sehingga kecemasan Socrates di Athena dulu dan kaum intelektual zaman ini terbukti, bahwa demokrasi memungkinkan orang-orang dungu akan memerintah orang-orang pintar.

Bagaimana mahasiswa menjadi pemimpin ?
Mahasiswa sebagai generasi pelanjut tongkat estafet pembangunan bangsa dan Negara tentunya harus senantiasa membiasakan diri mempelajari teori dan tekni dalam kepemimpinan. Bagaimanapun juga dengan perjalanan waktu maka mahasiswa sebagai bagian dari generasi yang dimaksudkan mau tidak mau kedepan akan diberikan beban dan tanggung jawab dalam menjalankan dan melanjutkan amanah Negara Republik Indonesia, baik ia di dalam system pemerintahan maupun diluar system pemerintahan.


Tentunya jauh sebelumnya harus dipersiapkan lebih dini, dalam hal ini wada yang sangat efektif dalam proses penggalian tersbut adalah dalam dunia kampua, maka bagaimana cara melatih diri dalam kepemimpinan? Berikut ini dalam lingkup mahasiswa yang dapat dijasikans sebagai referensi:
1. bahwasanya, bakat bawaan atau tidak berbakat, bukan menjadi soal. Yang penting punya kemauan, niat, tekad, dan segera berbuat.
2. berinteraksi dengan lingkungan melalui cara bergaul untuk hal-hal yang positif dan produktif.
3. mau masuk dalam organisasi dan menajdi anggota aktif. Jadilah anak buah yang baik sebelum menjadi pemimpin yang baik, kemudian berusaha menjadi pengurus organisasi. Dikampus banyak aktivitas ekstrakokurikuler
4. manfaatkan setiap peluang untuk menjdapatkan pengalaman dalam memimpin dimulai dari hal-hal terkecil. Dinataranya :
– mengerjakan tugas dengn baik
– mampu bekerjasama baik secara vertical maupun horizontal.
– Berani serta mau berinisiatif dan kreatif
– Berani berkorban
– Sedikit bicara dan bayak kerja
– Belajar berdiskudi, bertanya, mengemukakan pendapat
– Belajar menghargai hasil karya orang lain
– Mengembangkan kesetiakawanan
– Mengembangkan personal network
– Mengembangkan kemampuan berkomunikasi.
– Mengembangkan kemampuan membuat gagasan, konsep, ataupun proposal-proposal dalam bentuk tulisan.
– Membuat laporan pertanggung jawaban.
Patut disimak, bahwa banyak orang yang berhasil di masyarakat, baik dalam karir, politik, maupun bisnis, adalah mereka yang dulunya sangat aktif dalam berorganisasi dan kegiatan ekstra kurikuler sewaktu jadi mahasiswa. Sebaliknya Justru yang ketika masih mahasiswa pintar, prestasi akademisnya baik, bahkan lulusnya menyandang predikat cum laude tapi kurang gaul, sedikit yang berhasil dalam berkarir-terutama yang menjadi pemimpin di masyarakat, karena terdapat kelemahan dalam bidang leadership dan kemampuan bergaul


Dilain sisi, Dalam organisasi pemerintah maupun swasta, banyak pegawai yang mempunyai prestasi akademis yang baik waktu di perguruan tinggi, ternyata dipimpin oleh mereka yang prestasi akademisnya biasa saja. Maka , kemampuan bergaul sangat penting sekali dalam suatu kepemimpinan.
Dengan demikian, jadilah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan organisasi dan ekstra kurikuler serta pandai bergaul tanpa mengabaikan tugas-tugas intrakurikuler supaya tidak kena DO, agar suatu saat kalau sudah menjadi sarjana dan berkecimpung di masyarakat sudah terbiasa memimpin dan dapat menjadi pemimpin yang baik, bahkan bisa menjadi entrepreneur yang baik, sukses, dan tangguh, karena nantinya selain mempunyai IQ (intellegence quotient) yang tinggi juga memiliki kecerdasan emosional yang diistilahkan EI (emotional intelligence) dan EQ (emotional quotient), serta kecerdasan sosial (social quotient)


Disampaikan pada UP-Grading BEM Syari’ah& Hukum UIN tanggal 14 March 2009
Makassar, 14 Maret 2009
Mantan KETUA UMUM BEM FAK.SYARI’AH IAIN/UIN Alauddin Makassar Periode: 2003-2004.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s