PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KASUS FLU BURUNG (AVIANT INFLUENZA)

Posted: 27 Oktober 2010 in akademik, mahasiswa

oleh: Sukri Askari. M.Kes Penyunting Patawari

bahaya flu burung

bahaya flu burung

Penyakit Flu Burung (Avian Influenza) salah satu penyakit zoonosis penting yang saat ini banyak dibicarakan. Flu Burung adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. wabah akibat dari virus ini ditemukan pertama kali di Italia pada abad 20, sekitar 100 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1878. Dan pada tahun 1924 – 1925 virus ini mewabah di Amerika Serikat. Virus flu burung ini pernah menewaskan antara 20 hingga 40 juta manusia pada tahun 1918 – 1919 dalam waktu yang singkat. Pandemik yang sangat dahsyat ini disebabkan oleh virus H1N1 yang dikenal dengan nama “ Spanish Flu “. Tahun 1957 terjadi “ Asian Flu “ yang disebabkan oleh virus H5N1. Reservoir alami virus tersebut adalah unggas air yang berimigrasi dan ayam, terutama ayam ras. Manusia yang terinfeksi Aviant Influenza Menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa dalam perkembanganya kondisi tubuh menurun drastis, jika tidak segera mendapat pertolongan, korban dapat meninggal karena berbagai komplikasi yang mengancam jiwa adalah gagal napas dan gangguan fungsi tubuh lainnya.

Avian Influenza di dunia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, karena menyerang manusia dan menelan banyak korban. Avian Influenza kembali menyerang manusia dilaporkan di Hongkong pada tahun 1997. Selama kejadian luar biasa (KLB) tersebut dilaporkan 18 orang dirawat di rumah sakit dan delapan orang meninggal dunia. Berdasarkan laporan yang masuk ke Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejak tahun 2003 hingga tanggal 27 Februari 2006, tercatat jumlah kasus Avian Influenza Yang Confirmed laboratorium mencapai 173 kasus dan 93 kasus (53,8%) diantaranya meninggal dunia. Negara dengan jumlah kasus Avian Influenza terbanyak adalah Vietnam (93 kasus) sekitar 53,8% dari total kasus di seluruh dunia dengan kematian 45,16%.

Penyakit flu burung ini telah menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia. Pada tanggal 25 Januari 2004, pemerintah telah mengumumkan secara resmi bahwa Avian Influenza di Indonesia ditemukan sejak Agustus 2003. Selanjutnya pada Januari 2004 ditemukan kasus serupa pada ternak unggas di beberapa propinsi di Indonesia. Sekitar 3.842.275 ekor ayam mati dan yang paling tinggi kematiannya adalah wilayah Jawa barat yaitu mencapai 1.541.427 ekor (Retno D. Soedjono,2005).

1. Definisi flu burung

Flu Burung adalah suatu penyakit menular yang digolongkan ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dalam zoonosis yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit flu burung ini dikhawatirkan dapat menular juga dari manusia ke manusia. Flu Burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang dari penyakit ini adalah Avian Influenza (Marc Siegel,2006).

Flu Burung adalah penyakit pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza tipe A, yang merupakan family Orthomyxoviridae. Virus influenza ini dibedakan atas tiga tipe yakni virus influenza tipe A yang biasa menular ke unggas, sedangkan tipe B dan C adalah virus yang umum menyebabkan influenza pada manusia.

2. Etimologi
Penyakit flu burung disebabkan oleh virus influenza tipe A dengan diameter 90 – 120 nanometer. Virus tersebut termasuk dalam family Orthomyxoviradae. Secara normal, virus tersebut hanya menginfeksi ternak unggas. Namun dapat juga menginfeksi ternak ruminansia, terutama babi (Edi.Atmawinata ,2006 ).

Berdasarkan tipe virusnya, virus influenza terbagi atas tiga tipe yakni tipe A, B dan C. Pada umumnya virus tipe A, ada 2 glikoprotein, yaitu Hemaglutinin (H) dan Neuraminidase (N). Untuk mengklasifikasinya secara rinci, masing – masing tipe virus tersebut dibagi menjadi subtype berdasar kelompok Hemaglutinin (H) dan Neuraminidase (N). Klasifikasinya adalah H15, dan N1-N9 ( Budi Tri Akoso ,2006).

Influenza pada manusia sejauh ini disebabkan oleh virus H1N1, H2N2, H3N2, serta virus Avian H5N1, H9N2, dan H7N7. Dan kasus penyakit flu burung yang hangat dibicarakan saat ini adalah virus influenza tipe A subtype H5N1.
Dalam virus tipe A mempunyai 15 hemaglutinin dan 9 neuraminidase. Jika keduanya dikombinasikan maka terdapat 135 kemungkinan subtipe virus yang bisa muncul. Beberapa jenis subtype
( Strain ) yang sudah dikenal antara lain H1N1, H1N2, H2N2, H3N3, H5N1, H7N7, dan H9N1 ( Cucunawangsih, 2006 ).

Adapun sifatnya virus ini yaitu dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih 30 hari pada 0°C. Inilah yang menyebabkan wabah flu burung banyak merebak di musim dingin atau musim hujan yang udaranya lebih relatif dingin. Sementara itu, pada bahan organic , virus akan hidup lebih lama begitu juga dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas sakit. Virus ini akan mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit atau 56°C selam 3 jam.

3. Gejala Penyakit
Gejala penyakit flu burung dapat dibedakan menjadi dua yakni pada unggas dan manusia.

a. Pada Unggas
Gejala pada unggas yang sakit cukup bervariasi, mulai dari gejala ringan ( nyaris tanpa gejala ), sampai gejala yang sangat berat, Hal ini tergantung dari keganasan virus, lingkungan, dan keadaan unggas itu sendiri. Penyakit flu burung memiliki sifat imunosuspresi karena menyebabkan penurunan daya tahan tubuh yang sangat cepat. Selain itu virus ini memiliki karakteristik sistemik sehingga prosesnya diawali dengan merusak semua system dan organ dalam. Dengan rusaknya organ ini maka akan terjadi penurunan daya tahan tubuh. Rusaknya system dalam tubuh menyebabkan semua metabolisme tidak sempurna sehingga produksi antibody tidak maksimal. Dalam kondisi ini kemampuan untuk menahan serangan virus juga tidak optimal.

Adapun gejala – gejala klinis ternak unggas yang terinfeksi flu burung yaitu ( Tjandra,2004 )
1) Jengger berwarna biru
2) Kepala bengkak
3) Sekitar mata bengkak
4) Demam
5) Diare
6) Penurunan produksi telur
7) Tidak nafsu makan
8) Terjadi gangguan pernafasan
9) Kematian mendadak
10) Gangguan sistem saraf
b. Pada Manusia

Gejala flu burung pada dasarnya adalah sama dengan flu biasa lainnya, hanya saja cendrung lebih sering dan cepat menjadi parah.

Adapun gejala – gejala penyakit flu burung pada manusia, yaitu
( Tjandra,2004 ) :
1) Demam sekitar 39°C
2) Batuk
3) Lemas
4) Sakit tenggorokan
5) Sakit kepala
6) Muntah
7) Nyeri perut
8) Nyeri sendi
9) Infeksi selaput mata ( conjuctivitas )
10) Dalam keadaan memburuk, terjadi severe respiratory distress, yakni sesak nafas hebat, kadar oksigen rendah sementara kadar karbondioksida meningkat. Ini terjadi kerena infeksi flu menyebar ke paru – paru dan menimbulkan radang paru – paru(Pneumonia).

Setelah mengenal gejala maka biasanya akan dicari informasi mendalam tentang faktor resiko yang ada, misalnya apakah yang bersangkutan bekerja dipeternakan, atau habis berkunjung kepasar ayam dan lain – lain. Selain itu juga perlu diketahui penyakit – penyakit lain yang mungkin akan memperburuk keadaan seperti adanya penyakit paru atau jantung. Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan fisik untuk melihat langsung keadaaan pasien dan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium dan ronggen dada.

4. Cara Penularan
Penyakit flu burung dapat menular dari unggas ke unggas dan dari unggas kemanusia bahkan dikhawatirkan akan terjadi penularan dari manusia ke manusia.
a. Penularan antar ternak unggas

Seekor unggas yang terinfeksi virus H5N1 akan menularkannya dalam waktu yang sangat singkat. Tetapi jika semua unggas peliharaan dalam kondisi prima dan memeliki daya tahan tubuh yang kuat maka infeksi tidak akan menyebablan kematian. Sebaliknya jika kondisi unggas berada dalam kondisi buruk maka flu burung dapat mematikan.

Penularan virus dalam satu kandang terjadi karena virus dikeluarkan lewat kotoran dan lendir yang keluar dari mata dan hidung. Penempelan kotoran pada peralatan ternak, seperti tempat pakan, minum, dan rak telur serta dinding kandang juga dapat menularkan virus.

Selain hal tersebut diatas, kondisi sanitasi yang kurang baik dapat membantu penyebaran virus flu burung ini. Kondisi sanitasi yang kurang baik dapat menyebabkan kebersihan kandang kurang steril. Lendir yang keluar dari hidung dan mata dapat menetesi tempat pakan dan minum. Saat tempat minum digunakan untuk minum ayam lain atau ternak, babi maka ada kemungkinan penularan virus. ( Tjandra,2004 ).

Dari uraian tersbut diatas, penyakit flu burung dapat ditularkan dari unggas ke unggas lainnya dengan cara sebagai berikut :
1. Kontak langsung dari unggas terinfeksi denga hewan yang peka
2. Melalui lendir yang berasal dari hidung dan mata
3. Melalui kotoran ( feses ) unggas yang terserang penyakit flu burung
4. Lewat manusia melalui sepatu dan pakaian yang terkontaminasi dengan virus
5. Melalui pakan, air, dan peralatan kandang yang terkontaminasi
6. Melalui udara karena memilik peran penting dalam penularan dalam satu kandang, tetapi memiliki peran terbatas dalam penularan antar kandang
7. Melalui unggas air yang dapat berperan sebagai sumber (reservoir) virus dari dalam saluran intestinal dan dilepaskan lewat kotoran.

b. Penularan dari ternak ke Manusia
Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan berbagai jenis unggas terinfeksi, maupun tidak langsung. Maksudnya selain karena menyentuh unggas, ayam, burung dan sebagainya secara langsung, penularan dapat terjadi melaui kendaraan yang mengangkut binatang. Dikandangnya dan alat – alat peternakan (melalui pakan ternak). Penularan juga dapat terjadi melalui pakaian, termasuk sepatu para peternak yang langsung menangani kasus unggas yang sakit, dan pada saat jual beli ayam hidup dipasar serta berbagai mekanisme lain.

Penularan dari unggas kemanusia, pada dasarnya berasal dari unggas yang sakit masih hidup dan menular. Unggas yang sudah dimasak tidak akan menularkan flu burung kemanusia sebab virus itu akan mati dengan pemanasan 80°C lebih dari satu menit. Semakin meningkat suhu akan semakin cepat mematikan virus.

Telur – telur yang cangkangnya terdapat kotoran kering perlu diwaspadai. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kotoran yang menempel pada telur – telur tadi berasal dari kotorang unggas yang terjangkit flu burung. Disarankan juga untuk mengkonsumsi telur yang telah matang

c. Penularan antar manusia
Sampai saat ini penularan virus flu burung antar manusia kecil kemungkinannya, tapi perlu diwaspadai. Hal ini dikarenakan virus bermutasi dan beradaptasi denga manusia sehingga memungkinkan adanya virus baru flu burung. Apabila sudah terjadi interaksi antara virusinfluenza pada unggas dan pada manusia maka akan terbentuk virus yang lebih ganas dan mematikan.
5. Masa Inkubasi
a. Pada unggas : 1 minggu
b. Pada manusia : 1-3 hari, masa infeksi 1 hari sebelum 3-5 hari sesudah timbul gejala pada anak sampai 21 hari ( Peidjaja, 2005 )
6. Diagnosis

Departemen Kesehatan RI membagi diagnosis flu burung pada manusia menjadi tiga yaitu :
a. Kasus suspek flu burung yaitu seseorang dengan saluran pernafasan akut ( ISPA ) dengan gejala demam ( suhu > 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dengan salah satu keadaan :
1) Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang terjangkit KLB flu burung.
2) Kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan.
3) Bekerja pada suatu laboratorium yang memproses specimen manusia atau hewan yang dicurigai menderita flu burung.

b. Kasus probable yaitu kasus suspek disertai salah satu keadaan:
1) Bukti laboratorium terbatas yang mengarah ke virus influenza A H5N1, misalnya tes yang menggunakan antigen H5N1
2) Dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonia/gagal pernafasan/meninggal
3) Terbukti tidak ada penyebab lain

c. Kasus konfirmasi atau kasus yang sudah pasti, yang defenisinya adalah kasus yang :
1) Hasil kultur virus influenza H5N1 (+)
2) Hasil PCR (Polymerase chain Reaction) influenza H5(+)
3) Terjadi peningkatan titer antibodi H5 sebesar 4 kali

7. Pencegahan

a. Pada hewan ternak
Beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam pencegahan flu burung pada hewan ternak antara lain :
1. Biosekuriti

Langkah – langkah yang dapat dilakukan dalam usaha ini antara lain sebagai berikut :
a. Membatasi secara ketat lalu lintas unggas atau ternak, produk unggas, pakan kotoran, bulu dan alas kandang.
b. Peternak dan orang yang hendak memasuki peternakan ayam atau unggas harus mengggunakan pakaian pelindung seperti masker, kaca mata plastic, kaos tangan dan sepatu
c. Mencegah kontak dengan antara unggas dengan burung liar atau burung air, tikus dan hewan lain.
d. Melakukan desinfeksi terhadap semua bahan, sarana, dan prasarana peternakan termasuk kandang
e. Menggunakan desinfektan yang sudah direkomendasikan seperti asam perasetat, hidroksi, peroksida, sediaan ammonium kuartner, formaldehid, kalium hiperklorit

2. Depopulasi
Depopulasi adalah tindakan pemusnahan unggas secara selektif di peternakan yang tertular virus flu burung. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas.

Cara pemusnahan unggas yang terinfeksi virus flu burung adalah menyembelih semua unggas yang sakit dan unggas sehat dalam satu kandang ( peternakan ), dapat juga dilakukan dengan cara disposal yaitu membakar dan mengubur unggas yang mati, sekam dan pakan yan tercemar serta bahan peralatan yang terkontaminasi.

3. Vaksinasi
Vaksinasi harus dilakukan pada semua jenis unggas sehat didaerah yang telah diketahui ada virus flu burung
4. Sosialisasi

Sosialisasi tentang penyakit flu burung dilakukan dengan penyuluhan ke peternakan dan masyarakat di masing – masing daerah, agar warga disekitar lokasi peternakan mengerti dan paham akan bahaya flu burung Pada manusia.
Secara umum pencegahan terkena flu tentunya tetap menjaga daya tahan tubuh, makan seimbang dan bergizi, istirahat teratur dan olahraga teratur. Sementara itu, sampai sekarang belum ada vaksin untuk menangkal flu burung pada manusia.

Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu
1. Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang)
a. Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis kerja
b. Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung
c. Menggunakan alat pelindung diri, misalnya masker dan pakaian kerja.
d. Menggunakan pakaian kerja di tempat kerja
e. Membersihkan kotoran unggas setiap hari

2. Masyarakat umum
a. Menjaga daya tahan tubuh denga memakan makanan seimbang dan bergizi, istirahat yang cukup dan menjaga kebersihan
b. Bila ada keluhan gangguan pernafasan dalam beberapa hari agar segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan terdekat
c. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu pilih unggas yang sehat ( tidak terdapat gejala – gejala penyakit pada tubuhnya ) dan memasak daging ayam sampai suhu 80°C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu 64°C selama 4,5 menit

Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) menyatakan secara umum prinsip – prinsip kerja yang higienis, seperti :
a. Mencuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri. Ini merupakan upaya yang harus dilakukan oleh mereka yang kontak dengan binatang, baik dalam keadaan mati, apalagi ketika hidup.
b. Karena telur juga dapat tertular, maka penanganan kulit telur dan telur mentah perlu dapat perhatian pula
c. Daging unggas harus dimasak sampai suhu 70°C atau 80°C selama sedikitnya 1 menit
d. Pola hidup sehat, dalam hal ini adalah makanan yang bergizi dan seimbang, istirahat yang cukup, olahraga teratur.

Langkah – langkah lain yang dapat kita lakukan untuk mencegah penularan virus flu burung, yaitu (Kompas, Oktober 2005 ) :
1. Menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah setiap hari
2. Berantas lalat dengan obat lalat
3. Jauhi kontak langsung dengan ayam, bebek, dan hewan unggas lainnya
a. Ajari anak – anak agar ;
1. Tidak menyentuh burung meski hanya bulu – bulunya
2. Untuk sementara jangan memelihara hewan dirumah
3. Segera mencuci tangan dengan sabun selesai berdekatan atau menyentuh hewan peliharaan atau hewan ternak
4. Jangan tidur berdekatan dengan kandang unggas

b. Jika secara tidak sengaja anda berada diwilayah yang terserang virus flu burung bahkan menyentuh hewan unggas atau berjalan di tanah yang mengandung kotoran hewan, segeralah cuci dengan sabun

c. Jika memelihara unggas atau burung dalam rumah, sebaiknya cermati kesehatannya. Jika ada unggas yang mati, segera baker dan kuburkan, agar tidak menimbulkan debu sewaktu menggali tanah, basahi dulu tanah tempat penguburan hewan. Setelah mengubur hewan, langsung bersihkan daerah sekitarnya
d. Bagi siapapun yang mempunyai gejala atau demam, sebaiknya segera memakai masker pada saat bersin atau batuk
e. Sesudah memotong dan mempersiapkan ayam atau unggas untuk dimasak, segerakan mencuci tangan dengan sabun
f. Telur sebelum dimasak perlu dicuci terlebih dahulu dengan sabun

8. Pengobatan.
Sampai saat ini, penyakit flu burung belum ada obatnya. Penderita hanya akan diberikan obat untuk meredakan gejala yang menyertai penyakit flu burung tersebut, seperti demam, batuk atau pusing. Pasien juga harus mendapat terapi suportif, makanan yang bergizi, bila perlu diinfus dan istirahat yang cukup, bila terdapat sesak nafas dapat dilakukan oksigenasi.

Selain itu dapat pula diberikan obat anti virus. Ada 2 jenis yang tersedia, yaitu kelompok M2 inhibitors ( amantadine dan rimantadine) serta kelompok neuraminidase inhibitors ) oseltamivir dan zanamivir). Amantadine atau remantadine diberikan pada awal penyakit, 48 jam pertama, selama 3-5 hari, dengan dosis 5mg/kg berat badan pasien/hari, dibagi dalam 2 dosis. Bila berat badan lebih dari 45 Kg diberikan 100mg/hari. Sementara oseltamivir diberikan 75 mg, 1 kali sehari selama 7 hari.

BATAS PERILAKU

Perilaku manusia ( individu ) pada dasarnya merupakan fungsi interaksi antara manusia dan lingkungan. Interaksi ini melibatkan kepribadian manusia yang kompleks dengan lingkungan yang memiliki tatanan tertentu. Perbedaan – perbedaan kepribadian manusia dan lingkungan yang di hadapinya menimbulkan perilaku manusia ( individu ) yang berbeda – beda ( Sastrodiningrat ).

Perilaku merupakan hasil perpaduan dari faktor intern atau yang ada di dalam diri individu yaitu keturunan dan motif (dorongan kebutuhan) dan faktor ekstern yang meliputi pengetahuan tentang apa yang ingin dilakukan, keyakinan atau kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dan sarana yang diperlukan untuk melakukannya.

Robert Kwick ( 1974 ) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat di amati dan bahkan dapat di pelajari. Di dalam proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan. Persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar, sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklan, manusia, sosial ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.
Jadi perilaku adalah suatu pengorganisasian proses – proses psikologis oleh seseorang yang memberikan predisposisi untuk melakukan respon menurut cara tertentu terhadap suatu obyek.

Bentuk operasional dari perilaku dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis ( Soekidjo Notoatmodjo, 1985 ) :
1. Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yakni dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari luar.
2. Perilaku dalam bentuk sikap, yakni tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri si subyek sehingga alam itu sendiri akan mencetak perilaku manusia yang hidup didalamnya, sesuai dengan keadaan dan sifat alat tersebut
( lingkungan fisik ). Lingkungan yang kedua adalah sosio-budaya yang bersifat non fisik, tetapi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembentukan perilaku manusia. Ini adalah berupa keadaan masyarakat dan segala bidan daya masyarakat di mana manusia itu lahir dan mengembangkan perilakunya.
3. Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, berupa perbuatan (action) terhadap situasi atau rangsangan dari luar. Namun secara lebih operasional perilaku dapat diartikan sebagai suatu respon organisme (seseorang) terhadap rangsangan (stimulasi) dari luar subyek tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam yakni bentuk pasif atau respon internal yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat di lihat dari orang lain misalnya berpikir, tanggapan atau sikap dan pengetahuan dan bentuk aktif yaitu apabila, perilaku itu jelas dapat di observasi secara langsung ( Notoatmodjo, 1993 ).

2. Perilaku Kesehatan
Lawrence Green ( 1980 ) mengemukakan bahwa perilaku kesehatan di pengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :
1. Faktor predisposisi ( Predisposing Factor ), yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai – nilai dari seseorang.
2. Faktor pendukung ( Enabling factor ), yang terwujud dalam lingkungan fisik ( tersedia atau tidaknya fasilitas kesehatan )
3. Faktor pendorong ( Reinforcing factor ), yang terwujud dalam sikap dari petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

Menurut WHO ( 1998 ) menyebutkan adanya empat penyebab manusia melakukan sesuatu, yakni :
1. Pikiran dan perasaan yang di bentuk oleh pengetahuan, keyakinan, sikap dan nilai
2. Pengetahuan yang datang dari pengalaman – pengalaman yang tepat, di peroleh melalui informasi yang di berikan oleh guru, orang tua, kelompok sebaya, buku dan media massa.
3. Keyakinan yang di turunkan dari orang tua, kakak atau dari orang yang di hormati, manusia menerima keyakinan tanpa membuktikan hal tersebut benar atau salah.
4. Sikap yang merefleksikan kesukaan dan ketidaksukaan serta dapat datang dari pengalaman, kadang – kadang situasi dapat menyebabkan seseorang bertindak tidak sesuai dengan sikapnya, walaupun dalam hal ini sikapnya juga tidak berubah.

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( overt behavior ) (Notoatmodjo, 1993 ).

Margono Slamet mengemukakan bahwa pengetahuan adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi. Pengertian merupakan tahap awal bagi seseorang untuk berbuat sesuatu., karena itu kalau di lihat manusia sebagai individu, maka unsur – unsur yang di perlukan agar ia dapat berbuat sesuatu adalah :
1. Pengetahuan tentang apa yang di lakukan
2. Keyakinan dan kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang di lakukan ( attitude yang positif )
3. Sarana yang di perlukan
4. Dorongan atau motivasi untuk berbuat yang di landasi oleh kebutuhan yang di rasakan.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari beberapa penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

Menurut Bloom, pengetahuan merupakan bagian dari “ cognitive domain “ yang mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
1. Tahu ( Know )
Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall )terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari.
2. Memahami (Comprehension )

Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi ( Application )

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk materi yang telah di pelajari pada situasi atau kondisi riil ( sebenarnya ). Aplikasi disini diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum – hukum, rumus – rumus, metode, prinsip,dan sebagainya dalam konteks dan situasi yang lain.

4. Analisis ( Analysis )
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atas suatu obyek kedalam komponen – komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis ( Synthesis )
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada.

6. Evaluasi ( Evaluation )
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian – penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang di tentukan sendiri atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari beberapa penelitian mengatakan bahwa ternyata perilaku tidak terlepas dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Olehnya itu pengetahuan peternak dalam kaitannya dengan penyebaaran penyakit flu burung sangat penting untuk melihat sejauh mana peternak dapat mengambil keputusan untuk menghindarkan dirinya dari kemungkinan terjangkit suatu penyakit ( Notoatmodjo, 1993 ).

Pengetahuan peternak terhdap penyakit flu burung sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik melalui penyuluhan maupun melalui media massa lainnya dan kemampuan untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut. Pengetahuan yang cukup mengenai penyakit flu burung akan menyebabkan seseorang mengetahui cara terhindar dari penyakit flu burung sehingga upaya pencegahan ataupun pengobatan cepat dilaksanakan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap stimulus atau obyek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap senantiasa ada dalam diri namun tidak selalu aktif setiap saat. Sikap merupakan kecenderungan untuk bereaksi secara positif (menerima) ataupun negative terhadap suatu obyek itu.

Sikap seseorang lebih banyak diperoleh melalui proses belajar dibandingkan dengan pembawaan atau hasil perkembangan dan kematangan. Sikap dapat di pelihara atau ditumbuhkan dan dapat pula dirangsang atau diperlemah.

Sikap terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu :
1. Menerima ( receiving )
Orang ( subyek ) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan obyek
2. Merespon ( responding )
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti menerima ide tersebut.
3. Menghargai ( Valuing )
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang di berikan adalah suatu indikasi dari sikap yang berarti bahwa orang ( subyek ) menerima ide yang ditawarkan.
4. Bertanggung jawab ( responsible )
Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resikonya dalah merupakan sikap yang paling tinggi.

Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sikap merupakan kecendrungan untuk bertindak tapi belum melakukan aktivitas. Pengukuran sikap ini dapat di lakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu obyek atau dapat di lakukan dengan pernyataan – pernyataan hipotesis, kemudian dinyatakan pendapat responden (Notoatmodjo, 2003 ).

Pengetahuan baru akan memberikan respon batin dalam bentuk sikap terhadap obyek yang diketahui. Sikap ini akan berpengaruh pada tindakan untuk meningkatkan derajat kesehatan individu dan masyarakat ( Notoatmodjo, 1993 )
Setiap orang tentu saja akan memberikan penilaian yang berbeda terhadap suatu masalah, seperti halnya dengan penyakit flu burung yang semakin mengkhawatirkan. Peternak ayam sebagai kelompok yang rentan untuk terinfeksi penyakit flu burung ternyata memberikan berbagai sikap yang berbeda pula terhadap penyakit flu burung.

Secara umum tindakan diketahui adalah respon atau reaksi individu terhadap stimulus baik baik berasal dari dalam dirinya. Respon atau reaksi individu terhadap stimulus atau rangsangan terdiri dari dua bentuk, yaitu :
1. Respon yang berupa tindakan yang dapat di lihat dari luar dan dapat diukur. Ini di sebut sebagai perilaku yang tampak
( over behavior )
2. Respon yang berupa tindakan yang tidak dapat dilihat langsung. Ini disebut sebagai perilaku yang tidak nampak ( covert behavior )

Menurut Foster dan Anderson ( 1978 ) dan Salita Sarwono (1993) bahwa melakukan suatu tindakan seseorang terlebih dahulu mengkomunikasikan rangsangan yang diterimanya dengan keadaan dalam diri dan perasaannya. Keadaan dalam diri yang dimaksud adalah pengetahuan, kepercayaan dan sikap. Selanjutnya komunikasi inilah yang disebut sebagai proses mental tersebut akan terwujud pada apakah ia melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan tertentu.

Tindakan ini memiliki tingkatan – tingkatan. Tingkatan tingkatan tersebut adalah :
1. Persepsi ( Perception )
Mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.
2. Respon Terpimpin ( Guided Response )
Dalam melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang besar sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator kedua.
3. Mekanisme ( Mecanism )
Apabila sesorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat ketiga.
4. Adaptasi ( Adaptation )
Suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi keberanian tindakan tersebut.

Penyebaran flu burung khususnya pada lingkungan peternakan dapat dipengaruhi oleh bagaimana tindakan
yang diterapkan oleh para peternak dalam melakukan aktivitas ternak sehingga pencegahan terhadap penyakit flu burung dapat dilaksanakan, seperti pemberian vaksinasi, aktivitas pembersihan kandang dan pembatasan terhadap orang – orang yang ingin berkunjung ketempat – tempat peternakan.

Pengukuran tindakan dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan – kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, bulan yang lalu ( recall ). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yaitu dengan mengobservasi tindakan atau perbuatan responden (Notoatmodjo, 2003 ).

3. Analisis faktor perilaku.
Beberapa teori yang dicoba mengenai determinan perilaku dari analisis faktor – faktor yang dapat mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan antara lain teori Lawrence Green (1980), Snehandu B.Kar (1983), dan WHO (1984).

1. Teory Lawrence Green.
Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor, yakni faktor perilaku ( Behavior causes) dan faktor diluar perilaku (Non behavior causes).

Selanjutnya peraku itu sendiri ditentukan atau dibentuk 3 faktor.
a. Faktor predisposisi ( Predisposing Facators)
b. Faktor pendukung ( Enabling Factors)
c. Faktor Pendorong ( Renforcing factors)
2. Teory Snehandu B.Kar

Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari :
a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatanya ( Behavior Intention)
b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (Social support)
c. Ada atau tidaknya informasi kesehatan atau fasilitas kesehatan.(Accessebility of information)
d. Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan (Personal autonomi)
e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak. ( Action Situation)
3. Teori WHO.

WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu adalah karena adanya 4 alasan pokok. Pemikiran dan perasaan ( Thoughts and Feeling), yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan – Skepercayaan dan penilaian – penilaian seseorang terhadap objek ( dalam hal ini adalah objek kesehatan).

a. Pengetahuan.
Pengalaman diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

b. Kepercayaan.
Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

c. Sikap
Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Sikap positif terhadap nilai – nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Hal ini disebabkan oleh beberapa alas an, antara lain:
1) Sikap akan terwujud di dalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat ini.
2) Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu kepada pengalaman orang lain.
3) Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.
4. Nilai (Value)

Didalam suatu masyarakat apa pun selalu berlaku nilai – nilai yangmenjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat.
a. Orang penting sebagai referensi.
Perilaku orang lebih – lebih perilaku anak kecil, lebih banyak dipengaruhi oleh orang – orang yang dianggap penting. apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang dikatakan atau perbuatan cenderung untuk dicontoh.
b. Sumber – sumber daya.
Sumber daya disini mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya. Semua itu berpengaruh terhadap perilaku seseorang atau kelompok masyarakat.Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif.
c. Perilaku normal, kebiasaan,nilai – nilai dan penggunaan sumber – sumber di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (Way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan.
Perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat ditentukan oleh pemikiran dan perasaan seseorang, (WHO,1983) adanya orang lain yang dijadikan referensi dan sumber – sumber atau fasilitas yang dapat mendukung perilaku dan kebudayaan dimasyarakat.

SALAM AKADEMIKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s